Dandhy Laksono dan Farid Gaban Berbagi Cerita Keliling Indonesia

Karanganyar (11/8) – Dandhy Laksono dan Farid Gaban berkesempatan hadir di DATALK di sela-sela tur keliling Indonesia yang sedang mereka lakukan. Mereka adalah jurnalis yang sudah malang melintang tidak hanya di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri. Beberapa waktu lalu, mereka berdua baru saja menyelesaikan ekspedisi keliling Indonesia menempuh jarak 11.000 km menaiki sepeda motor. Dandhy Laksono terkenal berkat karya-karya film luar biasa, salah satunya film Pesta Babi. Sementara itu, Farid Gaban sudah malang melintang di dunia jurnalistik, bahkan pernah meliput perang Bosnia pada tahun 1992.

Pada kesempatan ini, Dandhy dan Farid berbagi pengalaman mereka di dunia jurnalistik. Pada episode yang dipandu oleh Allika, siswa kelas 9, para narasumber berbagi pengalaman mereka yang luar biasa. Pada awal perbincangan, Dandhy dan Farid menceritakan bahwa perjalanan keliling Indonesia yang beberapa waktu lalu sudah diselesaikan menghabiskan waktu 426 hari. Satu tahun lebih. Perjalanan itu memberikan Dandhy dan Farid informasi yang sangat luar biasa terkait potret masyarakat Indonesia di berbagai pelosok negeri.

Dandhy dan Farid memiliki motivasi yang berbeda ketika terjun ke dunia jurnalistik. Dandhy lebih didorong oleh motivasi eksternal ketika mendapati kalimat yang mengatakan bahwa profesi jurnalis itu haram. Ia ingin membuktikan pernyataan itu salah. Sementara itu, Farid didorong karena selama kuliah di ITB, nilai pelajaran bahasa yang didapat di atas rata-rata sehingga memunculkan ketertarikan di dunia membaca dan menulis.

Berikutnya, kedua narasumber menjelaskan prinsip yang harus dimiliki seorang jurnalis. Bagi mereka, jurnalis harus jujur. Sikap jujur pada seorang jurnalis tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. Selain itu, jurnalis harus berpihak. Pernyataan yang mengatakan bahwa jurnalis harus independen itu bukan berarti jurnalis tidak berpihak ke mana pun. Jurnalis harus berpihak kepada kebenaran. Jurnalis harus berada di sisi kebaikan. Mewujudkan hal tersebut tidak boleh dilandasi ketakutan. “Jurnalis boleh salah dan itu manusiawi, tapi jurnalis tidak boleh bohong,” ucap Dandhy.

Berikutnya, Allika bertanya tentang kemampuan khusus yang harus dimiliki seorang jurnalis. Kedua narasumber sepakat bahwa kemampuan dasar yang harus dimiliki adalah membaca. Seorang jurnalis yang menghasilkan tulisan yang baik pasti diawali dengan membaca yang baik. Tidak mungkin seseorang bisa menulis dengan baik jika tidak membaca dengan baik. Maka dari itu, banyak-banyaklah membaca jika ingin menjadi jurnalis hebat.

Pada sesi terakhir, Dandhy dan Farid menceritakan pengalaman mereka berkeliling Indonesia. Banyak cerita menarik yang mereka dapatkan. Cerita tersebut yang kemudian diwujudkan dalam berbagai karya film dokumenter. Film dokumenter Dragon For Sale bahkan berhasil mengantar mereka ke Amerika dan Kanada untuk mempresentasikan karya. Dandhy juga sedikit bercerita tentang film Pesta Babi yang sangat fenomenal. Kehadiran dua pembicara ini menjadi semangat baru bagi DATV untuk terus berkarya. Allika mengaku sangat senang bisa berbincang dengan para narasumber. “Aku mau foto sama narasumber, terutama Pak Dandhy. Mau tak pamerin ke mamah,” kata Allika.

This will close in 0 seconds